PKKM MA Manbail Futuh: Pengawas Dorong Kepemimpinan Visioner dan Kurikulum Berbasis Cinta

Beji, Jenu – 4 Desember 2025
MA Manbail Futuh Beji Jenu Tuban melaksanakan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) pada Kamis (4/12), dengan menghadirkan dua pengawas madrasah, Ulfa Hayati Muzayyanah dan Ali Musyafa', sebagai tim penilai resmi. Di wilayah Jenu, kegiatan PKKM diselenggarakan empat tahun sekali sebagai langkah evaluatif untuk mengukur dan menstandarkan kinerja kepala madrasah sesuai regulasi Kementerian Agama.
Selama proses penilaian, tim pengawas meninjau dokumen, memverifikasi program kerja, serta menelaah efektivitas kepemimpinan dan pengelolaan madrasah. Kegiatan berlangsung tertib dan komunikatif, disertai penyampaian data dan paparan capaian kinerja dari kepala madrasah.
Dalam wawancara bersama Tim Jurnalistik MA Manbail Futuh, pengawas menegaskan bahwa PKKM bertujuan memastikan kepala madrasah sebagai pemimpin dapat bergerak sejalan dengan target pemerintah terkait mutu pendidikan dan manajemen lembaga. Para pengawas menyampaikan harapan besar agar kepala madrasah mampu mencetak generasi berakhlak baik, membangun karakter siswa yang positif, serta mendorong lahirnya berbagai prestasi di berbagai bidang. Selain itu, peningkatan kualitas proses pembelajaran juga menjadi perhatian utama, terutama melalui rencana penerapan kurikulum berbasis cinta, sebuah pendekatan yang menekankan nilai empati, kasih sayang, kedekatan emosional, dan pembentukan karakter yang humanis.
Pengawas menilai penerapan kurikulum berbasis cinta berpotensi menjadi inovasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, menumbuhkan motivasi siswa, serta memperkuat hubungan antara pendidik dan peserta didik. Melalui model kepemimpinan yang visioner dan berorientasi pada penguatan karakter, madrasah diharapkan mampu terus berkembang dan menghadirkan pendidikan yang bermutu.
Proses PKKM di MA Manbail Futuh berjalan lancar dan kondusif. Seluruh jajaran madrasah, mulai dari guru, staf tata usaha, hingga perwakilan siswa, turut berpartisipasi aktif dalam memberikan data dan informasi yang diperlukan oleh tim penilai.
Kegiatan PKKM ditutup dengan penyampaian catatan evaluasi dan rekomendasi pengembangan yang diharapkan dapat menjadi arah perbaikan dan penguatan kualitas madrasah pada tahun-tahun mendatang.
Kegiatan Rutin Pramuka Bulanan di Gedung Olahraga MA Manbail Futuh Berlangsung Penuh Semangat

Sabtu, 9 November 2025 — Kegiatan rutin Pramuka yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali kembali digelar dengan penuh antusias. Kali ini, kegiatan khusus diikuti oleh anggota Pramuka putri dan berlangsung di Gedung Olahraga MA Manbail Futuh.
Pada kegiatan tersebut, Bapak Khizbullah bertindak sebagai pemateri. Beliau menyampaikan materi menarik seputar lencana kepramukaan, Trisatya, dan Dasa Dharma Pramuka. Dalam penyampaiannya, Bapak Khizbullah menjelaskan makna dari setiap lencana serta menekankan pentingnya memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Trisatya dan Dasa Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau juga berpesan agar setiap anggota Pramuka mampu menjadi contoh dalam hal disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama, sebagaimana semangat yang diajarkan dalam kepramukaan.
Kegiatan berjalan dengan tertib dan penuh semangat. Di akhir acara, seluruh peserta bersama-sama menghafalkan Trisatya dan Dasa Dharma Pramuka sebagai bentuk penguatan nilai-nilai kepramukaan.
Melalui kegiatan rutinan ini, diharapkan semangat kepramukaan terus tumbuh di hati setiap siswa, menjadi bekal dalam membentuk karakter yang tangguh, mandiri, dan berjiwa Pancasila.
oleh:(@jurnalism_journey) MA manbail futuh
Upacara Hari Senin Bertepatan dengan Hari Pahlawan Berlangsung Khidmat

Senin, 10 November 2025 — Upacara bendera yang dilaksanakan di halaman sekolah hari ini berlangsung khidmat dan penuh makna karena bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Bertindak sebagai pembina upacara yaitu Bapak Imam Ma’arif.
Dalam amanatnya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada kelas XI IPA 3 yang telah menjalankan tugasnya sebagai petugas upacara dengan baik dan penuh tanggung jawab. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada siswa-siswi kelas XII yang telah melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan sungguh-sungguh, meskipun masih ada beberapa yang harus menjalani ujian susulan.
Bapak Imam Ma’arif mengingatkan bahwa waktu berjalan begitu cepat dan kini telah memasuki penghujung bulan November. Beliau menekankan bahwa ujian bukan hanya menjadi tolak ukur nilai atau sekadar angka, melainkan menjadi sarana untuk mengukur sejauh mana usaha dan kedisiplinan belajar siswa.
Sebagai wali kelas, beliau berpesan agar siswa-siswi menggunakan waktu sebaik mungkin untuk belajar, bertanya kepada bapak dan ibu guru, serta mempersiapkan diri menghadapi ujian dengan sungguh-sungguh.
Mengaitkan dengan semangat Hari Pahlawan, Bapak Imam mengajak seluruh siswa untuk meneladani perjuangan para pahlawan yang dahulu berjuang melawan penjajah. “Jika dulu pahlawan berjuang melawan penjajah, maka kini kita berjuang melawan kemalasan dan hawa nafsu,” ujarnya.
Upacara ditutup dengan doa bersama untuk para masyayikh, pahlawan, dan guru-guru yang telah berjasa dalam mendidik serta membimbing generasi muda. Suasana upacara berlangsung tertib dan penuh rasa syukur atas jasa para pahlawan bangsa.
oleh:(@jurnalism_journey) MA manbail futuh
Upacara Bendera: Pembina Ingatkan Pentingnya Tanggung Jawab dan Disiplin

Pada hari Senin, 27 Oktober 2025, MA Manbail Futtuh Beji Jenu Tuban melaksanakan upacara bendera rutin yang berlangsung dengan khidmat di halaman sekolah. Upacara diikuti oleh seluruh dewan guru, staf tata usaha, serta seluruh peserta didik dari kelas X hingga kelas XII.
Bertindak sebagai pembina upacara adalah Bapak Saifun Nasir, S.H., S.Pd., yang merupakan wali kelas XI IPA 1. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan pesan penting mengenai tanggung jawab dan kedisiplinan dalam menjalankan peraturan sekolah.
Beliau menegaskan bahwa tanggung jawab dan disiplin merupakan kunci utama untuk membentuk karakter siswa yang unggul dan berakhlak baik. “Menjadi siswa yang bertanggung jawab berarti mampu menyelesaikan kewajiban tanpa harus diingatkan. Sedangkan disiplin berarti menaati peraturan dengan kesadaran penuh, bukan karena paksaan,” ujar beliau dalam amanatnya.
Upacara berlangsung dengan tertib, lancar, dan penuh semangat. Para petugas upacara menjalankan tugasnya dengan baik, dan seluruh peserta menunjukkan sikap disiplin selama kegiatan berlangsung.
Melalui amanat tersebut, diharapkan seluruh siswa MA Manbail Futtuh semakin termotivasi untuk meningkatkan rasa tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah, demi terciptanya lingkungan belajar yang kondusif dan berkarakter.

oleh:(@jurnalism_journey) MA manbail futtuh
Antara Cinta Santri Pada Kyai dan Bias Cara Pandang Modern


TRADISI PESANTREN YANG DISALAH PAHAMI :
Antara Cinta Santri Pada Kyai dan Bias Cara Pandang Modern.
( M.Arifuddin : Mutakhorrij PP.Al Falah Ploso Kediri )
Jika kita mengamati fenomena gugatan pada pesantren akhir2 ini maka akan kita temukan bahwa sejatinya
kolonialisme pengetahuan tak hanya menghapus narasi tapi juga membungkam cara masyarakat lokal memahami diri sendiri. Ketika praktik seperti jalan ngesot di depan kyai cium tangan kyai atau bisyaroh santri pada kyai dilabeli “tak rasional” atau “feodal”, maka yang terjadi sebenarnya adalah kekerasan epistemik yaitu cara budaya lokal mengekspresikan cinta dan adab sopan santun dihapus karena tak sesuai kerangka berpikir Barat yang katanya moderat. Epistemik semacam ini akan menggerus dan mempengaruhi pola pemikiran dan sikap generasi muda , mereka akan terlena dan mengikuti pemikiran2 yg katanya moderat dg meninggalkan budaya lokal yg sangat Arif penuh adab dan tatakrama.
Hampir 1,5 abad yg lalu Rosululloh telah memprediksi hal ini dalam sebuah haditsnya :
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قالوا يا رسول الله اليهود والنصارى قال فمن ؟
Sungguh kalian semua akan mengikuti ajaran dan tradisi orang2 sebelum kamu sedikit demi sedikit hingga ketika mereka masuk dalam rumah hewan biawak maka kalian akan mengikutinya ,
Lalu para sahabat bertanya : ya Rosulalloh apakah mereka yg diikuti itu orang Yahudi atau nashroni ?
Rosululloh menjawab : siapa lagi ?
Budaya barat yg katanya moderat adalah budaya2 non muslim yg jauh dari budaya Islam yg penuh sopan santun. Karenanya umat Islam jangan sampai terperangkap pada pemikiran2 tersebut .
Tradisi penghormatan terhadap guru di pesantren bukanlah bentuk pengkultusan, melainkan wujud adab dan etika keilmuan yang kuat dalam ajaran Islam. Banyak hadits sohih yang menjelaskan tentang ini
Dalam budaya Indonesia,dan pesantren pada khususnya sikap santri seperti mencium tangan, menunduk, atau bersimpuh di hadapan kiai adalah ekspresi lokal dari penghormatan terhadap ilmu dan pembawaannya, selama tidak melampaui batas-batas syariat, praktik tersebut tetap sejalan dengan ajaran Islam.
Oleh karena itu, anggapan bahwa tradisi pesantren sebagai bentuk kemusyrikan merupakan pandangan keliru yang lahir dari penilaian sepihak.
Ketika kita melihat antropologi masyarakat Indonesia umumnya dan komunitas pesantren pada khususnya, mereka lebih banyak memiliki aturan, tradisi seperti penghormatan kepada orang tua, guru dan orang2 yg Sholeh tokoh agama dan masyarakat
Secara praktik, guru, ulama, orang tua merupakan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita ,karena itu sudah sewajarnya kita memberikan penghormatan kepada mereka .
Penghormatan kepada kedua orang tua guru dan para ulama serta orang2 Sholeh berbentuk cium tangan, duduk bersimpuh , menundukkan kepala di depan mereka tidak lah dilarang oleh agama.
Hal ini berdasarkan Hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:
عن زارع رضي الله تعالى عنه وكان في وفد عبد القيس قال: فجعلنا نتبادر من روا حلنا فنقبل يدالنبي صلى الله عليه وسلم ورجله. (سنن أبو داود ، رقم ٤٥٤٨)
Artinya: Dari Zaro' ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku ‘Abdil Qais, beliau berkata, Kemudian kami segera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi saw
(HR Sunan Abi Dawud, )
Imam An Nawawy seorang ulama pakar hadits dalam kitab karyanya Fatawy An Nawawy beliau menyatakan :
يستحب تقبيل أيدي الصالحين وفضلاء العلماء ويكره تقبيل يد غيرهم. (فتاوى الإم النووي، ص ٧٩).
Disunnahkan mencium tangan orang2 yang Sholeh , orang2 yg memiliki keutamaan dari para ulama, dan dimakruhkan mencium tangan selain mereka .( Kitab : Fatawa Al Imam An Nawawy Hal.79 )
Sedangkan menundukkan kepala dihadapan guru juga tidak melanggar aturan syariat , hal ini jg terpraktekan dalam masa sahabat .
Salah seorang Sahabat bernama Usammah menceritakan bagaimana kondisi para sahabat ketika berada di majelis Nabi SAW Beliau mengatakan:
كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرُ، لَا يَتَكَلَّمُ مِنَّا مُتَكَلِّمٌ
(الترغيب والترهيب ٣/٣٥٦)
“Dahulu ketika kami duduk di majelis Nabi SAW seakan-akan di atas kepala-kepala kami dihinggapi seekor burung. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara (semua mendengar dengan seksama )
ketika di majlis ilmu
Para sahabat tidak ada yg berani mengangkat wajah memandang rosululloh.( Kitab Attarghib wat Tarhib 3/356 ).
Sudah jelas sekali bahwa semua yang terpraktekan dalam dunia pesantren mempunyai dalil yang kuat, bagi mereka yang selama ini menggugat dan menghujat tradisi pesantren tersebut itu karena ketidak pengertian mereka atau karena mereka dipengaruhi oleh pemikiran2 yang katanya moderat, padahal sebenarnya itu adalah bagian dari kolonialisme pengetahuan dan tradisi .
Kita hanya bisa berdoa pada Alloh mudah2 an mereka dibuka mata hatinya oleh Alloh, atas ketidak mengertian mereka.
اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون
oleh:(@jurnalism_journey) MA manbail futtuh
Santri Berkarya, Bangsa Berdaya: MA Manbail Futuh Gelar Talk Show Inspiratif Bersama Alumni

Tuban, 22 Oktober 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025, Madrasah Aliyah (MA) Manbail Futuh menggelar acara Talk Show bertema“Santri Berkarya, Bangsa Berdaya: Kontribusi Santri di Era Modern”, menghadirkan narasumber istimewa, Ainul Yaqin, S.Ag., M.Pd.I, salah satu alumni berprestasi sekaligus pendidik dan tokoh inspiratif di bidang dakwah serta pendidikan Islam.
Acara yang diselenggarakan di aula utama MA Manbail Futuh ini berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan. Seluruh siswa siswi MA Manbail Futuh dan para guru hadir untuk mengikuti kegiatan yang sarat makna tersebut. Dalam sambutannya, Kepala Madrasah menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting bagi santri untuk memperkuat semangat berkarya, berdaya, serta berkontribusi dalam membangun bangsa di tengah tantangan zaman.
Sebagai narasumber, Ainul Yaqin berbagi pengalaman inspiratif tentang perjalanan hidupnya sebagai santri hingga menjadi seorang pendidik profesional. Ia menekankan pentingnya sinergi antara ilmu agama dan keterampilan modern agar santri mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan kemajuan bangsa.
Dalam penyampaiannya, Ainul Yaqin memberikan pesan mendalam tentang peran generasi muda dan pentingnya nilai keikhlasan dalam menuntut ilmu:
“Perjuangan tidak lepas dari peran anak muda. Mereka sangat berpotensi untuk menjadikan Indonesia negara yang rukun, Indonesia maju, dan mampu menghadapi tantangan zaman ke depannya. Semua itu tidak luput dari doa para masyayikh dan usaha kita yang notabennya sebagai santri. Kita harus siap — bagaimana cara kita menghadapi tantangan zaman? Kalau kita tidak menjadi orang yang inovatif dan kreatif, kita akan tergerus oleh zaman.”
Beliau juga menegaskan bahwa kepintaran dan kecerdasan bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan, melainkan keberkahan dari ilmu dan adab yang dimiliki oleh seorang santri:
“Kepintaran dan kecerdasan tidak menjamin orang itu menjadi orang hebat, melainkan keberkahan ilmu, keberkahan doa kiai, kesopanan, ketaatan, tawadlu’, keikhlasan dalam mencari ilmu, serta adab kita terhadap guru dan para kiai. Semua itu adalah kunci utama keberhasilan seorang santri.”
Lebih lanjut, Ainul Yaqin mengingatkan bahwa santri tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam urusan keagamaan, tetapi juga memiliki peran besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara:
“Santri tidak hanya mengurusi masjid atau pesantren, tetapi juga harus mampu menjadi orang yang berguna bagi orang lain, bahkan menjadi pemimpin yang bermartabat untuk memperjuangkan Indonesia. NKRI adalah harga mati. Sebagaimana sabda Rasulullah, khairunnas anfa’uhum linnas — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Kita harus bangga menjadi santri, sebab dari santri lahirlah tokoh-tokoh besar yang berkontribusi untuk negeri. Kita harus bangga menjadi santri sebab dari situ lahirlah tokoh yang berkontribusi untuk negeri.”
Selain talk show, acara juga dimeriahkan dengan penampilan kreasi seni santri, pembacaan sholawat, serta doa bersama untuk para ulama dan pejuang Islam yang telah berjasa bagi negeri. Suasana berlangsung khidmat, penuh makna, dan menggugah semangat kebanggaan sebagai bagian dari komunitas santri.
Melalui kegiatan ini, MA Manbail Futuh berharap dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan, kreativitas, dan kemandirian di kalangan santri, agar mereka siap menghadapi tantangan zaman dengan bekal iman, ilmu, adab, dan karya nyata bagi bangsa dan agama.
oleh:(@jurnalism_journey) MA manbail futtuh